Seri Cheat Sheet Ujian

CS-01 Cheat Sheet: DP Polimer Runtuh Apabila Stoikiometri Menyimpang 1 Persen

8 Oktober 2026 · ilmutekkim

CS-01 Cheat Sheet: DP Polimer Runtuh Apabila Stoikiometri Menyimpang 1 Persen
Foto: FCL / Pexels

Jebakan paling terkenal di kelas polimer menyatakan: kejar konversi 99 persen, derajat polimerisasi tinggi akan mengikuti dengan sendirinya. Persamaan Carothers membantahnya dengan angka, dan bantahan itu ditentukan oleh sesuatu yang diatur sebelum reaksi dimulai.

Step-growth: rantai tumbuh dari sambungan demi sambungan

Pada polimerisasi step-growth dua monomer, asam AA dan diol BB bereaksi membentuk oligomer, lalu rantai tumbuh menjadi poliester. Setiap sambungan ester baru melepaskan satu molekul H₂O. Pada mekanisme ini molekul kecil dan oligomer dapat saling menyambung, sehingga berat molekul naik perlahan mengikuti banyaknya gugus fungsi yang sudah bereaksi [1][2].

Ujung rantai yang tersisa menentukan apakah rantai masih dapat tumbuh atau berhenti. Selama masih ada pasangan gugus yang bertemu, pertumbuhan berlanjut. Ketika ujungnya habis atau pasangannya tidak tersedia, rantai berhenti pada panjang itu juga.

Dua monomer menyatu, air keluar tiap sambungan

Persamaan Carothers: dua kunci bernama r dan p

Derajat polimerisasi rata-rata jumlah dihitung dengan persamaan DPₙ = (1 + r) / (1 + r − 2rp). Di sini r adalah mol gugus minor dibagi mol gugus mayor, sehingga r tidak pernah lebih dari 1. Adapun p adalah konversi gugus pembatas, yaitu gugus yang jumlahnya lebih sedikit dan habis lebih dulu [2][3].

Persamaan Carothers ini dipakai untuk poliester dan nilon. Pelajaran pertamanya tegas: derajat polimerisasi dikunci dua hal sekaligus, konversi dan rasio monomer. Menaikkan satu tanpa menjaga yang lain tidak akan pernah cukup.

Rantai yang berhenti tumbuh
Foto: Fran Zaina / Pexels

Contoh pertama: stoikiometri pas, konversi 99 persen, DP hanya 100

Pada kasus ideal r = 1,00 dan p = 0,99, persamaan Carothers menyederhana menjadi DPₙ = 1 / (1 − p). Langkah hitungnya pendek: 1 − 0,99 = 0,01, lalu 1 / 0,01 = 100. Jadi DPₙ = 100, dan konversi 99 persen hanya memberi DP 100 di step-growth [2].

Angka ini mengejutkan karena naluri dari polimerisasi rantai mengatakan konversi tinggi berarti rantai panjang. Di step-growth, rantai panjang menuntut konversi yang sangat dekat ke sempurna, karena setiap persen gugus yang belum bereaksi menyisakan ujung rantai yang memotong rata-rata panjang.

Contoh kedua: melenceng 1 persen membuat konversi sempurna tidak berguna

Ambil r = 0,99 dan p = 1,00: satu monomer kurang 1 persen dan semua gugus minor bereaksi habis. Hitungannya (1 + 0,99) / (1 + 0,99 − 2 × 0,99 × 1,00) = 1,99 / 0,01 = 199. DP berhenti pada 199 walaupun konversinya sempurna, karena monomer mayor yang berlebih menjadi ujung mati dan rantai berhenti [2][3].

Pada p = 1, DP maksimal hanya fungsi dari r semata; konversi tidak dapat menolong lagi. Kesalahan mahasiswa yang paling umum adalah menaikkan p terus dalam perhitungan dan lupa memeriksa r, padahal r membatasi DP lebih dulu. Urutan pemeriksaan yang aman adalah menulis r terlebih dahulu, memastikan tidak lebih dari 1, baru memasukkan p. Sebagai latihan, batas untuk r = 0,98 pada p = 1 dapat dihitung dan dibandingkan dengan dua contoh di atas.

Di pabrik, perubahan kecil yang sama dipakai sebagai pengendali berat molekul

Butiran resin berisi jutaan rantai polimer yang panjangnya diatur lewat rasio monomer di reaktor. Insinyur memberi sedikit kelebihan satu monomer untuk mengunci berat molekul pada nilai yang diinginkan. Perubahan kecil, yang di kelas menjadi jebakan, di pabrik dipakai sebagai pengendali panjang rantai [1].

Prinsip yang sama bekerja dua arah. Stoikiometri dijaga ketat bila targetnya rantai sepanjang mungkin, dan digeser dengan sengaja bila targetnya berat molekul tertentu yang stabil dari satu angkatan produksi ke angkatan berikutnya.

Fakta kunci

  • Di step-growth, derajat polimerisasi dikunci dua hal sekaligus: konversi dan rasio monomer.
  • r adalah rasio gugus minor terhadap mayor dan tidak pernah lebih dari 1.
  • Konversi 99 persen hanya memberi DP 100 pada stoikiometri pas.
  • Melenceng 1 persen membuat DP berhenti pada 199 walaupun konversi sempurna.
  • Pada p = 1, DP maksimal hanya fungsi dari r.
  • Persamaan Carothers dipakai untuk poliester dan nilon.

Kesimpulannya

Lembar ringkasan ini bermuara pada satu kebiasaan hitung: periksa r sebelum mengejar p, karena rasio monomer menentukan langit-langit derajat polimerisasi dan konversi hanya menentukan seberapa dekat pencapaian terhadap langit-langit itu. Rumus yang sama yang menjebak mahasiswa di kelas dipakai insinyur untuk mengunci berat molekul resin di pabrik.

Referensi

  • Odian, G. (2004). Principles of Polymerization. John Wiley & Sons.
  • Carothers, W. H. (1931). Polymerization. Chemical Reviews, American Chemical Society.
  • Flory, P. J. (1953). Principles of Polymer Chemistry. Cornell University Press.
  • Carothers (1931), Polymerization, Chemical Reviews
  • Odian, Principles of Polymerization
  • Flory, Principles of Polymer Chemistry

Lanjut baca di Instagram

Konten teknik kimia tiap hari: proses pabrik, safety, dan cara baca alat. Ditulis insinyur kimia ITB.

Follow @ilmutekkim